JURNAL
AKUNTANSI
PERHOTELAN

Disusun
Oleh :
Nama : Susanti
NIM : 2141392965
Semester : IV
Jurusan : Perhotelan
Jenjang : D3
Prodi : Accounting
SEKOLAH
TINGGI PARIWISATA AMBARUKMO
(STIPRAM)
YOGYAKARTA
2015
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat,
Inayah, Taufik dan Hidayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan
jurnal ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana.
Semoga paper ini dapat dipergunakan
sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca. Harapan saya semoga jurnal ini membantu menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca.
Jurnal ini saya akui masih banyak
kekurangan. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan
masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan jurnal ini.
Yogyakarta, 18 Desember
2015
Penyusun
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Meningkatnya
dunia pariwisata saat ini di Indonesia menunjukkan arti pentingnya sebuah
hotel. Semakin banyaknya hotel yang berdiri
menunjukkan bahwa dunia industri perhotelan semakin strategis untuk menarik
karyawan-karyawan baru di berbagai tempat, sekaligus mengurangi tingkat pengangguran. Pengurangan tingkat pengangguran
tentunya membantu pemerintah dalam meminimalisasi tingkat kemiskinan. Di samping itu, arti
pentingnya industri perhotelan dapat juga dilihat dari sisi pendapatan pajak
yang diberikan hotel terhadap pemerintah.
Industri
perhotelan merupakan bagian dari indusrti pariwisata yang memiliki arti
penting, terutama bila dikaji dari aspek ekonomi. Perkembangan industri
perhotelan dapat dikatakan dimulai pada tahun 1962 pada saat Hotel Indonesia di
Jakarta disiapkan untuk menerima duta bangsa-bangsa mancanegara dalam rangka
pesta olah raga bangsa-bangsa yang berkembang (Games of the New Emerging Forces atau Ganefo). Hotel Indonesia saat
itu dikelola oleh jaringan Hotel Intercontinental. Sebelumnya memang telah ada
beberapa hotel kecil dengan sebutan losmen atau penginapan. Hotel Indonesia
dengan demikian merupakan hotel bertaraf internasional yang pertama di
Indonesia. Setelah itu, dibangun pula Hotel Samudra Beach di Pelabuhan Ratu,
Ambarukmo Palace Hotel di Yogyakarta, dan The Grand Bali Beach di Bali.
Keberadaaan suatu hotel memberikan dampak ekonomis yang berarti bagi masyarakat
di sekitarnya. Dengan adanya hotel tersebut, penduduk dapat bekerja langsung
sebagai karyawan hotel yang bersangkutan, dapat pula sebagai penunjang
operasional hotel dengan berperan sebagai rekanan hotel. Dampak sosial juga
meningkat karena keberadaan hotel tersebut. Hal ini terjadi karena peningkatan
penghasilan penduduk meningkatkan taraf hidup sehingga sekaligus meningkatkan
kondisi sosial mereka. Sebelum hotel tersebut dibangun, penduduk setempat dapat
berpartisipasi dalam kegiatan proyek hotel. Dari sisi penerimaan pemerintah,
hotel memberikan pemasukan bagi pemerintah terutama untuk pajak pembangunan I,
pajak bumi dan bangunan, dan pajak penghasilan. Dapat disimpulkan bahwa secara
ekonomi dan sosial kontribusi hotel pada suatu kawasan cukup berarti. Di sisi
lain, harus dicermati pula bahwa hotel berpotensi untuk memberikan tekanan fisik
dan nonfisik pada lingkungan sekitarnya. Tekanan pada lingkungan fisik
diakibatkan antara lain oleh limbah cair dan padat yang dihasilkan oleh hotel
dari kegiatan operasionalnya. Untuk itu, manajemen hotel hendaknya sadar
lingkungan sehingga tekanan yang diberikan oleh hotel dapat dikendalikan sampai
pada tingkat yang paling minimal.
Berdasarkan
uraian tersebut, kelompok kami tertarik untuk mengangkat bahasan mengenai
perhotelan yang dihubungan dengan sisi akuntansi, sehingga judul dari makalah
kami adalah “Akuntansi Perhotelan” .
1.2 Rumusan Masalah
Dalam makalah ini kami bermaksud
untuk mengangkat beberapa hal yang berkaitan dengan Akuntansi Perhotelan,
yaitu:
1.
Apa saja karakteristik hotel dan
produknya?
2.
Departemen apa saja yang terkait dengan
Laporan Keuangan Hotel?
3.
Bagaimana Laporan Keuangan sebuah hotel?
1.3 Tujuan dan Manfaat Makalah
Makalah ini bertujuan untuk
mengetahui tentang:
1.
Karakteristik hotel dan karakteristik
produk sebuah Hotel;
2.
Departemen-departemen terkait pelaporan
keuangan hotel;
3.
Contoh laporan keuangan sebuah hotel.
Manfaat
dari makalah ini, yaitu diharapkan dapat menambah wawasan bagi penulis, para
pembaca dan audiens tentang akuntansi perhotelan di Indonesia khususnya.
BAB II
PERHOTELAN
2.1 Pengertian Hotel
Pengertian hotel
menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 65 Tahun 2001 tanggal 31
September 2001, yaitu:
“Hotel adalah
bangunan yang khusus disediakan bagi orang untuk dapat menginap atau istirahat,
memperoleh pelayanan dan atau fasilitas lainnya dengan dipungut bayaran,
termasuk bangunan lainnya yang menyatu dikelola dan dimiliki oleh pihak yang
sama kecuali untuk pertokoan dan perkantoran.”
“Hotel merupakan
bangunan yang menyediakan jasa kamar untuk jangka pendek, makanan, minuman, dan
jasa lain yang diperlukan dengan imbalan pembayaran dari para tamu.”
(Wikipedia, diakses 19 November 2009)
Dari batasan
mengenai hotel tersebut dapat diungkapkan bahwa hotel merupakan usaha yang
mencari laba sebagai hasil akhir aktivitas bisnisnya. Oleh karena itu,
manajemen hotel akan berupaya sedemikian rupa agar tujuan ini pada akhir suatu
periode dapat tercapai. Berbagai aktivitas dilakukan oleh manajemen hotel untuk
mencapai sasaran laba yang direncanakan, diantaranya mengadakan pelatihan bagi
dan staf sehingga dapat memenuhi tingkat layanan yan diharapkan oleh tamu,
mengadakan kegiatan promosi dan pemasaran, pengendalian biaya operasional,
pengendalian lingkungan fisik hotel, dan aktivitas-aktivitas lainnya.
2.2 Klasifikasi Hotel
Pengklasifikasian
hotel bertujuan untuk menciptakan persaingan bisnis yang sehat, memberikan
panduan bagi tamu tentang harga dan fasilitas serta layanan yang diberikan oleh
hotel pada klasifikasi tertentu, memberikan panduan bagi para pemilik modal
jika hendak berbisnis pada satu klasifikasi hotel, dan secara nasional memudahkan
saat ingin mengetahui kebutuhan akan hotel pada klasifikasi tertentu.
Mengacu kepada
keputusan Menparpostel nomor KM 94/HK.103/MPPT-87 tentang Ketentuan Usaha dan
Penggolongangan Hotel, hotel diklasifikasikan dalam 5 (lima) golongan kelas,
yaitu satu bintang, dua bintang, tiga bintang, empat bintang, dan lima bintang.
Peringkat bintang tersebut memberikan petunjuk untuk kelas layanan yang
diberikan. Makin tinggi peringkat bintang suatu hotel, makin tinggi mutu
layanan serta makin lengkap fasilitas yang diberikan kepada tamunya.
Selain
klasifikasi menurut bintang, terdapat pula kasifikasi menurut melati, menurut
kamar yang dimiliki, menurut lokasi hotel, menurut jenis tamu, menurut lama
tinggal tamu, menurut operasi hotel, dan berdasarkan jenis layanan yang
diberikan, dan penjelasan dari masing-masing karakteristik tersebut adalah
sebagai berikut:
·
Klasifikasi
menurut Melati
Ada
3 (tiga) klasifikasi menurut Melati, yaitu: melati 1, melati 2, dan melati 3.
Yang membedakan klasifikasi bintang dan melati adalah tingkat layanan dan
fasilitas hotel dan administrasi. Hotel Melati adalah losmen yang telah
beroperasi sebelum klasifikasi hotel diterapkan oleh pemerintah. Agar mutu
layanan hotel melati meningkat, klasifikasi diperlukan pula. Fasilitas dan
layanan hotel melati lebih terbatas dibadingkan lebih rendah daripada hotel
berbintang.
·
Klasifikasi
menurut Jumlah Kamar yang Dimiliki
Dilihat
dari jumlah kamar yang dimiliki, maka hotel dapat diklasifikasikan menjadi:
1. Hotel
Kecil, dengan jumlah kamar sampai dengan 25 kamar;
2. Hotel
Sedang, dengan jumlah kamar sampai dengan 100 kamar;
3. Hotel
Menengah, dengan jumlah kamar sampai dengan 300 kamar;
4. Hotel
Besar, dengan jumlah kamar sampai dengan lebih dari 300 kamar.
·
Klasifikasi
menurut Lokasi Hotel
Dari
sisi lokasi, hotel dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Hotel
Bandara (Airport hotel), terletak
dengan bandara;
2. Hotel
di tengah kota (city hotel), lokasi
di tengah kota;
3. Hotel
Komersial (commercial hotel), lokasi
hotel di pusat bisnis;
4. Hotel
Pantai (beach hotel), lokasi di tepi
pantai;
5. Hotel
Stasiun (railway hotel), dekat dengan
stasiun kereta api;
6. Hotel
Jalan Raya (highway hotel), dekat
dengan jalan bebas hambatan;
7. Hotel
Pelabuhan (harbour hotel), berdekatan
dengan pelabuhan laut;
8. Hotel
Pegunungan (mountain hotel), lokasi
hotel berada di daerah pegunungan.
·
Klasifikasi
menurut Jenis Tamu
Dipandang
dari tujuan kedatangan tamu, hotel dapat dibedakan menjadi:
1. Untuk
bisnis;
2. Untuk
pemeliharaan kesehatan (penyembuhan);
3. Liburan;
4. Kompetisi
olah raga;
5. Tugas
kedinasan.
·
Klasifikasi
menurut Lama Tinggal Tamu
Bila
dilihat dari rata-rata lama tinggal tamu, maka hotel dapat diklasifikasikan
menjadi:
1. Transient
Hotel: Bila rata-rata lama tinggal tamu relatif singkat,
sampai dengan 7 hari.
2. Resident
Hotel: Bila rata-rata lama tinggal tamu untuk jangka
waktu yang lama.
·
Klasifikasi
menurut Masa Operasi Hotel
Dilihat
dari sisi masa operasi hotel, maka hotel dapat dikelompokkan menjadi:
1. Hotel Musiman (seasional hotel): di negara-negara yang
memiliki 4 (empat) musim, hotel hanya beroperasi pad musim tertentu.
2. Beroperasi Ssepanjang Tahun (all year round):
hotel yang beroperasi sepanjang tahun.
·
Kalsifikasi
menurut Jenis Layanan yang di berikan
Dilihat
dari jenis layanan yang diberikan, hotel dibagi menjadi:
1. Deluxe Hotel:
memberikan layanan yang lengkap dan istimewa kepada tamunya. Layanan yang luks
hotel tercermin dari harga kamar, fasilitas yang ditawarkan, dan kemampuan
serta kompetensi karyawan hotel yang tinggi dalam memberikan layanan untuk para
tamunya.
2. Ekonomi Hotel:
memberikan layanan yang terbatas, misalnya hanya untuk layanan kamar; demikian
[ulas, harga kamar yang ditawarkan lebih murah serta fasilitas yang ditawarkan
ole hotel kepada tamunya juga terbatas.
2.3 Karakteristik Produk Hotel
Hotel sebagai
industri jasa memiliki beberapa karakteristik produk dengan kekhasan sebagai
berikut:
1. Tamu
terlibat dalam proses produksi, misal ketika tamu menikmati makanan di
restoran, makanan pesanan tamu diolah di hadapan tamu, prodk minuman campuran
diproduksi di depan tamu ketika berada di bar.
2. Tidak
dapat dipakai sampel, produk harus dinikmati langsung oleh tamu.
3. Jasa
yang tidak terjual pada hari tertentu tidak dapat disimpan dan dikompensasikan
dengan penjualan pada hari berikutnya. Jadi, kamar yang tidak dapat terjual
hari ini, tidak dapat dikompensasikan dengan penjualan hari berikutnya;
kesempatan penjualan hari ini hilang. Kesempatan penjualan jasa kamar yang
telah hilang pada malam sebelumnya tidak dapat dikompensasikan dengan penjualan
jasa kamar pada malam berikutnya.
4. Tamu
sebagai konsumen harus datang langsung ke lokasi hotel untuk menikmati produk
hotel.
5. Mutu
layanan yang tidak konsisten. Produk yang sama disiapkan oleh karyawan yang
berbeda akan menghasilkan mutu yang berbeda. Oleh karena itu, untuk menjaga
konsistensi mutu, selalu diadakan inspeksi mutu produk sebelum dijual kepada
tamu. Misalnya, sebelum kamar siap ditawarkan kepada tamu, diadakan inspeksi
atau pengendalian mutu oleh penyelia bagian Tata Graha.
6. Citra
hotel tidak kasat mata. Oleh karena itu, diperlukan tindakan untuk membuat citra
hotel menjadi kasat mata. Memberikan seragam kepada karyawan merupakan salah
satu upaya agar citra hotel menjadi kasat mata.
7. Mudah
ditiru/ diduplikasi oleh pesaing. Bila suatu hotel menawarkan kamar suite plus plunge pool dan spa, maka hotel lain dengan mudah
memberikan produk yang sama. Produk yang ditawarkan oleh suatu hotel dengan
mudah ditiru oleh pesaing karena tidak ada hak paten untuk produk yang
ditawarkan kepada pelanggannya.
2.4 Klasifikasi Departemen Hotel
Departemen atau bagian
hotel dapat diklasifikasikan dengan pendekatan berikut:
1. Menghasilkan
Pendapatan (Revenue Generating)
Departemen yang menghasilkan
pendapatan diantaranya kantor depan, departemen makanan dan minuman serta
departemen lain yang lazim disebut minor
operated department, seperti binatu, dry
cleaning, spa, dan lainnya.
Departemen yang menghasilkan pendapatan dapat juga disebut operated department. Departemen-departemen ini secara langsung
melayani tamu (guest direct contact)
atau mengadakan kontak langsung dengan tamu ketika memberikan layanan.
2. Tidak
Menghasilkan Pendapatan (Non-Revenue
Generating)
Beberapa departemen hotel tidak
menghasilkan pendapatan langsung bagi hotel antara lain pemasaran, personalia,
pemeliharaan, keamanan, teknologi informasi, administrasi dan umum, akuntansi
dan cost control, dan lainnya.
Departemen-departemen tersebut tidak secara langsung melayani tamu hotel (guest non-direct contact), tetapi
mendukung layanan yang diberikan oleh departemen yang menghasilkan pendapatan.
Departemen-departemen ini juga lazim disebut non-operated department. Meskipun mengadakan kontak tidak secara
langsung dengan tamu hotel, departemen ini melayani departemen yang mengadakan
kontak langsung dengan tamu. Tamu akan menyampaikan keluhannya untuk fasilitas
kamar yang tidak berfungsi dengan baik kepada kantor depan hotel, selanjutnya
oleh kantor depan disampaikan ke bagian pemeliharaan, kemudian bagian
pemeliharaan akan memberikan layanan perbaikan fasilitas yang dikeluhkan oleh
tamu agar berfungsi dengan baik kembali.
2.5 Struktur Pendapatan dan Biaya Hotel
Pendapatan hotel
bersumber dari penjualan kamar, makanan, minuman, dan pendapatan lain (biasa
disebut minor operated department sales
seperti telepon, cucian, dry cleaning,
kolem renang, dan sebagainya). Adapun biaya-biaya dan harga pokok terjadi untuk
biaya bahan habis pakai di setiap bagian hotel, harga pokok makan dan minuman,
biaya administrasi dan umum, biaya pemasaran, biaya bunga, biaya deprsiasi dan
amortisasi, biaya sumberdaya manusia, biaya pemeliharaan sarana fisik hotel,
biaya energi dan laba/rugi yang dihasilkan. Dibawah ini merupakan proporsi
pendapatan dan biaya serta harga pokok yang terjadi di hotel yang diadaptasi
dari Laventhol & Horwath 1984.
Tabel
1.
Struktur Pendapatan dan Biaya Hotel
Sumber-sumber Pendapatan
|
Proporsi (%)
|
Kamar
|
59.9
|
Makanan
|
24.3
|
Minuman
|
9.0
|
Lain-lain
|
6.8
|
Sumber-sumber biaya
|
Proporsi (%)
|
Biaya Operasional Departemen Hotel
|
10.4
|
Gaji dan Upah
|
37.0
|
Biaya Bunga
|
7.2
|
Biaya Depresiasi
|
6.7
|
Harga Pokok Makanan
|
7.5
|
Harga Pokok Minuman
|
1.9
|
Administrasi dan Umum (A&G)
|
4.7
|
Administrasi dan Pemasaran (A&P)
|
4.3
|
Energi dan Daya
|
5.2
|
Pemeliharaan Sarana Fisik
|
3.4
|
Fee Manajemen
|
2.6
|
Lain-lain
|
6.9
|
Laba
|
2.2
|
BAB III
AKUNTANSI PERHOTELAN
Akuntansi bertujuan
memberikan informasi mengenai operasional hotel. Dengan informasi keuangan ini,
manajemen akan dapat mengambil keputusan yang lebih tepat. Manajemen memerlukan
informasi keuangan dengan tujuan perencanaan, analisis dan pengendalian. Dengan
informasi keuangan yang sekarang, manajemen dapat merencanakan kegiatan periode
yang akan datang, berupa anggaran periode yang akan datang. Selain itu,
manajemen juga dapat melakukan analisis dan pengendalian yang lebih baik untuk
aktivitas operasional hotel. Informasi keuangan untuk keputusan ekonomis hotel
bersumber dari:
1. Laporan
Rugi-Laba (Income Statement);
2. Neraca
(Balance Sheet);
3. Laporan
Arus Kas (Cash Flow Statement);
4. Catatan
atas Laporan Keuangan (Notes to Financial
Statement).
Sistem akuntansi yang
lazim diterapkan di industri perhotelan adalah Uniform System of Accounts for Hotel (USAH). Sistem ini awalnya
dikembangkan di Amerika Serikat oleh perhimpunan pengusaha hotel di New York
pada tahun 1925. Dengan berkembangnya industri perhotelan bersistem jaringan (Chain Hotel) di Indonesia, hotel-hotel dengan
jaringan tertentu yang beroperasi di Indonesia mengadopsi Uniform System of Accounts for Hotel ini, USAH pun terus
dikembangkan. Kini USAH berkembang menjadi Uniform
System of Accounts for The Lodging Industry disingkat USALI. Sistem ini
memberikan beberapa manfaat diantaranya keseragaman pemahaman untuk istilah
yang lazim diterapkan di bisnis perhotelan. Misalnya, istilah gross operating profit (GOP) yang
merupakan laba seluruh departemen minus biaya-biaya departemen yang
bersangkutan minus undistributed
operating expenses. Dalam USALI,
terminologi yang diterapkan untuk gross
operating profit adalah income after
undistributed operating expenses. Manfaat lainnya adalah data keuangan
untuk hotel dengan kelas yang sama dapat dibandingkan. Manfaat selanjutnya
terutama dirasakan oleh pihak ketiga, yaitu membuat data runut waktu dengan
tujuan kompilasi dan interpretasi lebih lanjut.
Akuntansi keuangan
hotel merupakan akuntansi departemental. Artinya, setiap departemen hotel
melaporkan hasil operasinya pada periode tertentu. Misalnya, kantor depan hotel
melaporkan aktivitasnya setiap bulan. Penjualan kamar yang terjadi dalam
sebulan dilaporkan bersamaan dengan biaya-biaya yang diserap untuk menghasilkan
penjualan kamar seperti biaya gaji dan upah, biaya alat tulis kantor, biaya
yang dipakai habis di kamar tamu, dan lain seagainya. Kantor depan juga
melaporkan laba departemen yang di capai pada bulan atau periode tahun
tertentu.
3.1
Laporan
Rugi-Laba
Sebagai
industri jasa, hotel memiliki laporan keuangan yang sesuai dengan aktivitas
bisnisnya. Salah satu laporan keuangan hotel yang penting adalah laporan
rugi-laba. Dalam laporan rugi-laba, yang dilaporkan adalah penjualan, harga
pokok penjualan, biaya-biaya yang terjadi pada departemen yang bersangkutan,
biaya-biaya operasional hotel yang tidak didistribusikan ke masing-masing
departemen hotel (undistributed operating
expenses), biaya-biaya tetap seperti depresiasi, sewa, bunga, pajak
penghasilan, dan laba bersih. Jadi, laporan rugi-laba merupakan laporan yang
sistematis mengenai penjualan, harga pokok, dan biaya serta laba (rugi) untuk
periode tertentu. Periode tertentu dapat dalam satu bulan, tiga bulan atau satu
tahun. Secara teknis, operasional laporan rugi-laba hotel disiapkan setiap
bulan sebagai laporan antara (interim
report) untuk kepentingan internal manajemen hotel yang bersangkutan.
Laporan rugi-laba yang disiapkan setiap bulan memberikan gambaran kepada
manajemen hotel pencapaian sasaran yang dicapai setiap bulan sehingga tindakan
koreksi dapat dilaksanakan lebih cepat.
3.2 Neraca
Neraca
merupakan salah satu laporan keuangan hotel yang penting. Dalam neraca
dilaporkan posisi kekayaan hotel seperti kas, piutang, persediaan, aktiva
lancar lain-lain, gedung dan perlengkapan gedung, aktiva tetap lain-lain, dan
tanah. Disamping kekayaan hotel, neraca juga melaporkan kewajiban hotel yang
terdiri dari utang dagang, utang pajak, utang gaji, utag jangka pendek, utang
jangka panjang serta modal.
3.3 Hubungan Laporan Rugi-Laba dengan
Neraca
Laporan
rugi-laba merupakan laporan yang mencakup aktivitas hotel untuk jangka waktu
setahun. Bila dalam jangka waktu operasi setahun tersebut hotel menghasilkan
laba (penjualan lebih besar daripada seluruh biaya yang terjadi) maka laba yang
dihasilkan pada periode tertentu, misalnya pada 2011, akan dilaporkan pada
neraca 2011, per 31 Desember 2011 dibawah judul rekening modal, pada rekening
laba yang ditahan. Laba periode ini dicantumkan pada rekening laba yang ditahan
karena laba ini pada saat pencatatan belum didistribusikan kepada pemilik hotel
berupa dividen. Berikut ini adalah gambaran hubungan antara laporan rugi-laba
dengan neraca:



![]() |
|||
![]() |
Laporan Rugi –
Laba Neraca
3.4
Elemen-elemen
Laporan Keuangan Departemen Hotel
Akuntansi
keuangan hotel merupakan akuntansi departemental. Disebut demikian karena
setiap departemen hotel melaporkan aktivitasnya selama periode tertentu.
Departemen kamar akan melaporkan aktivitasnya setiap periode (setiap bulan
misalnya), demikian pula halnya dengan departemen makanan dan minuman, dan
departemen-departemen hotel lainnya. Laporan aktivitas setiap departemen ini
(penjualan dan biaya-biaya departemental yang diserap untuk periode tertentu)
pada laporan keuangan merupakan lampiran laporan keuangan hotel.
1.
Laporan
Rugi-Laba Departemen Kamar
a.
Penjualan
Kamar
Pada laporan rugi-laba departemen
kamar dicantumkan semua sumber penjualan jasa kamar untuk periode tertentu
(sebulan, tiga bulan, atau setahun). Sumber-sumber penjualan jasa kamar dari transient regular, transient group, permanent,
dan penjualan kamar tambahan (extraroom revenues).
b.
Allowance
Allowance
merupakan
penyesuaian harga kamar untuk yang melampaui perjanjian sebelumnya. Kesalahan
pembebanan harga kamar yang terjadi pada saat tamu check-in dan diperbaiki beberapa hari kemudian, atau pada saat check-out, disebut allowance. Jadi, allowance adalah istilah teknis
untuk memperbaiki kesalahan pembebanan harga kamar yang terjadi pada waktu yang
lampau (kemarin atau beberapa hari yang lalu).
c.
Biaya-biaya
Operasional Langsung
Biaya-biaya yang terjadi pada
departemen kamar dibebankan langsung ke departemen kamar seperti gaji dan upah,
employee benefits, biaya tembikar (chinaware), bahan habis pakai (guest supplies, cleaning supplies, paper
supplies), komisi, seragam, pelatihan (training),
dan biaya resevasi.
d.
Laba
(Rugi) Departemen Kamar
Laba departemen kamar didapat
dengan mengurangkan penjualan dengan seluruh biaya yang diserap oleh departemen
kamar.
2.
Laporan
Laba-Rugi Departemen Makanan dan Minuman
a.
Penjualan
Makanan dan Minuman
Pada penjualan dicantumkan
sumber-sumber penjualan makanan dan minuman, yaitu restoran, coffee shop, room service dan bar.
b.
Allowance
Allowance
adalah istilah teknis untuk memperbaiki kesalahan pembebanan harga makanan dan
minuman yang terjadi kemarin atau beberapa hari yang lalu.
c.
Harga
Pokok Makanan dan Minuman
Harga pokok merupakan harga pokok
bahan makanan yang digunakan untuk menghasilkan penjualan. Harga pokok makanan
di industri perhotelan dihitung hanya untuk bahan makanan yang digunakan untuk
memproduksi makanan. Biaya-biaya lain seperti tenaga kerja dan penyusutan tidak
dibebankan ke hara pokok karena biaya tenaga kerja dibebankan ke departemen
yang bersangkutan. Adapun penyusutan peralatan dibebankan ke rekening
penyusutan. Pendekatan yang sama diterapan untuk menentukan harga pokok
minuman. Harga pokok dibebankan menjadi harga pokok makanan dan minumanhang
dikonsumsi dan harga pokok makanan yang dijual. Harga pokok makanan yang
dikonsumsi adalah harga pokok makanan yang digunakan untuk memproduksi makanan
yang ditawarkan. Harga pokok makanan yang dibebankan sesuai dengan jumlah harga
pokok makanan yang keluar dari gudang makanan. Adapun harga pokok makanan yang
dijual didapat dari harga pokok makanan yang dikonsumsi minus harga pokok
makanan untuk karyawan dan harga pokok makanan untuk karyawan dan harga pokok
untuk tujuan promosi dan tujuan lain seperti pertemuan dengan dewan
direksi/pemilik hotel. Hotel lazimnya memberikan makanan dan minuman satu kali
selama karyawan hotel bertugas. Harga pokok untuk makanan dan minuman pada
akhirnya dibebankan pada rekening employee
benefits, pendekatan yang sama diterapkan untuk menentukan harga pokok
minuman yang dijual.
d.
Biaya-biaya
Biaya-biaya yang terjadi di
departemen makanan dan minuman dibebankan kepada departemen ini. Biaya-biaya
dimaksud adalah gaji dan upah, employee benefits, biaya tembikar, bahan habis
pakai (guest supplies, cleaning supplies, paper supplies), komisi, seragam, pelatihan (training), dan biaya musik dan artis.
e.
Laba
(Rugi) Departemen Makanan dn Minuman
Laba departemen makanan dan minuman
didapat dengan mengurangkan penjualan dengan harga pokok dan seluruh biaya yang
diserap oleh departemen makanan dan minuman.
3.
Laporan
Rugi-Laba Minor Operated Departments
Departemen lain yang menghasilkan
penjualan seperti telepon, laundry
dan dry cleaning (lazim dikelompokkan
ke dalam minor operated departments)
juga membuat laporan rugi-laba dengan pendekatan sama dengan departemen kamar
dan departemen makanan dan minuman.
4.
Undistributed Operating Expenses
Departemen yang hanya menyerap
biaya dan tidak menghasilkan penjualan (seperti departemen administrasi dan
umum, pengolahan data, human resources,
transportasi, pemasaran, pemeliharaan dan biaya energi) hanya melaporkan semua
biaya yang terjadi di departemen tersebut untuk periode tertentu. Dengan
laporan ini, aktivitas tetap separtemen hotel dapat diketahui dan dikendalikan.
3.5 Contoh Laporan Keuangan Hotel
NERACA
HOTEL
KONTEMPORER
NERACA
PER
31 DESEMBER 20XX
(dalam
rupiah)
Aktiva
|
Pasiva
|
||
Aktiva
Lancar
|
Utang
Lancar
|
||
Kas
|
xxx.xxx.xxx
|
Utang
dagang
|
xxx.xxx.xxx
|
Investasi jangka
pendek
|
xxx.xxx.xxx
|
Utang yang
diperhitungkan
|
xxx.xxx.xxx
|
Piutang
|
xxx.xxx.xxx
|
Uang muka pemesanan
kamar
|
xxx.xxx.xxx
|
Penyisihan piutang
ragu-ragu
|
(xxx.xxx.xxx)
|
Porsi utang jangka
panjang
|
xxx.xxx.xxx
|
Persediaan
|
xxx.xxx.xxx
|
Utang pajak
penghasilan
|
xxx.xxx.xxx
|
Pembayaran di muka
|
xxx.xxx.xxx
|
||
Jumlah
Aktiva Lancar
|
xxx.xxx.xxx
|
Jumlah
utang lancar
|
xxx.xxx.xxx
|
Aktiva
Tetap
|
Utang
Jangka Panjang
|
||
Tanah
|
xxx.xxx.xxx
|
Hipotek
|
xxx.xxx.xxx
|
Mesin dan peralatan
|
xxx.xxx.xxx
|
||
Gedung dan
perlengkapan gedung
|
xxx.xxx.xxx
|
Jumlah
utang jangka panjang
|
xxx.xxx.xxx
|
Furniture and
fixtures
|
xxx.xxx.xxx
|
||
Kendaraan
|
xxx.xxx.xxx
|
Modal
|
|
Aktiva operasional
|
xxx.xxx.xxx
|
Saham
|
xxx.xxx.xxx
|
Akumulasi penyusutan
|
(xxx.xxx.xxx)
|
Agio saham
|
xxx.xxx.xxx
|
Beban yang
ditangguhkan
|
xxx.xxx.xxx
|
Laba yang ditahan
|
xxx.xxx.xxx
|
Jumlah aktiva tetap
|
xxx.xxx.xxx
|
Jumlah modal
|
xxx.xxx.xxx
|
Jumlah
Aktiva
|
xxx.xxx.xxx
|
Jumlah
Pasiva
|
xxx.xxx.xxx
|
RUGI/LABA
HOTEL
KONTEMPORER
LAPORAN
RUGI-LABA
PERIODE
SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20XX
(dalam
rupiah)
Jumlah
|
|
Pendapatan
Departemen
|
|
Kamar
|
xxx.xxx.xxx
|
Makanan dan minuman
|
xxx.xxx.xxx
|
Telekomunikasi
|
xxx.xxx.xxx
|
Binatu
|
xxx.xxx.xxx
|
Lainnya
|
xxx.xxx.xxx
|
Jumlah
|
xxx.xxx.xxx
|
Biaya
dan Harga Pokok
|
|
Kamar
|
(xxx.xxx.xxx)
|
Makanan dan minuman
|
(xxx.xxx.xxx)
|
Telekomunikasi
|
(xxx.xxx.xxx)
|
Binatu
|
(xxx.xxx.xxx)
|
Lainnya
|
(xxx.xxx.xxx)
|
Laba
Departemen
|
xxx.xxx.xxx
|
Biaya
Tidak Didistribusikan
|
|
Administrasi dan umum
|
(xxx.xxx.xxx)
|
Pemasaran
|
(xxx.xxx.xxx)
|
POMEC
|
(xxx.xxx.xxx)
|
Laba
Setelah Biaya Tidak Didistribusikan
|
xxx.xxx.xxx
|
Asuransi
|
(xxx.xxx.xxx)
|
Laba
Sebelum Biaya Bunga, Depresiasi, Amortisasi, dan Pajak
|
xxx.xxx.xxx
|
Biaya Bunga
|
(xxx.xxx.xxx)
|
Laba
Sebelum Depresiasi, Amortisasi, dan Pajak
|
xxx.xxx.xxx
|
Depresiasi dan
amortisasi
|
(xxx.xxx.xxx)
|
Laba
Sebelum Pajak
|
xxx.xxx.xxx
|
Pajak
|
(xxx.xxx.xxx)
|
Laba
Bersih
|
xxx.xxx.xxx
|
BAB
IV
KESIMPULAN
Hotel
merupakan usaha yang mencari laba sebagai hasil akhir aktivitas bisnisnya. Oleh
karena itu, manajemen hotel akan berupaya sedemikian rupa agar tujuan ini pada
akhir suatu periode dapat tercapai. Berbagai aktivitas dilakukan oleh manajemen
hotel untuk mencapai sasaran laba yang direncanakan, diantaranya mengadakan
pelatihan bagi dan staf sehingga dapat memenuhi tingkat layanan yan diharapkan
oleh tamu, mengadakan kegiatan promosi dan pemasaran, pengendalian biaya
operasional, pengendalian lingkungan fisik hotel, dan aktivitas-aktivitas
lainnya.
Dalam
bisnis perhotelan, terdapat pengklasifikasian hotel yang bertujuan untuk
menciptakan persaingan bisnis yang sehat, memberikan panduan bagi tamu tentang
harga dan fasilitas serta layanan yang diberikan oleh hotel pada klasifikasi
tertentu, memberikan panduan bagi para pemilik modal jika hendak berbisnis pada
satu klasifikasi hotel, dan secara nasional memudahkan saat ingin mengetahui
kebutuhan akan hotel pada klasifikasi tertentu. Pengklasifikasian hotel
diantaranya adalah sebagai berikut:
• Klasifikasi menurut Melati;
• Klasifikasi menurut Jumlah Kamar yang Dimiliki;
• Klasifikasi menurut Lokasi Hotel;
• Klasifikasi menurut Jenis Tamu;
• Klasifikasi menurut Lama Tinggal Tamu;
• Klasifikasi menurut Masa Operasi Hotel;
• Kalsifikasi menurut Jenis Layanan yang di berikan.
Dalam
kegiatan operasionalnya, hotel terdiri dari dua jenis departemen yaitu
departemen yang menghasilkan Pendapatan (Revenue
Generating), dimana departemen ini merupakan departemen yang menghasilkan
pendapatan diantaranya kantor depan, departemen makanan dan minuman serta
departemen lain yang lazim disebut minor
operated department, seperti binatu, dry
cleaning, spa, dan lainnya. Yang
berikutnya adalah departemen yang tidak menghasilkan Pendapatan (Non-Revenue Generating), yaitu antara
lain pemasaran, personalia, pemeliharaan, keamanan, teknologi informasi,
administrasi dan umum, akuntansi dan cost
control, dan lainnya.
Sistem
akuntansi yang lazim diterapkan di industri perhotelan adalah Uniform System of Accounts for Hotel
(USAH). Sistem ini awalnya dikembangkan di Amerika Serikat oleh perhimpunan
pengusaha hotel di New York pada tahun 1925. Dengan berkembangnya industri
perhotelan bersistem jaringan (Chain
Hotel) di Indonesia, hotel-hotel dengan jaringan tertentu yang beroperasi
di Indonesia mengadopsi Uniform System of
Accounts for Hotel ini, USAH pun terus dikembangkan. Kini USAH berkembang
menjadi Uniform System of Accounts for
The Lodging Industry disingkat USALI. Akuntansi keuangan hotel merupakan
akuntansi departemental. Artinya, setiap departemen hotel melaporkan hasil
operasinya pada periode tertentu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa akuntansi
perhotelan merupakan pelaporan keuangan yang merupakan penggabungan dari
beberapa laporan dari setiap departemennya dalam suatu periode.
Sumber
: http://dokumen.tips/documents/makalah-akuntansi-perhotelan.html